Saat Orang Tua Hadapi Problem Pendidikan

SETIAP tahun ajaran baru, tidak hanya orang tua siswa baru yang dibuat pusing menyediakan sejumlah dana, orang tua siswa yang naik kelas pun perlu mengeluarkan dana ekstra. Bagi orang tua siswa yang baru masuk ke kelas I, ada sejumlah dana yang perlu dibayarkan mulai dari uang bayaran (BP3 dan/atau SPP), uang bangunan atau kini disebut dana sumbangan pendidikan (DSP), uang pakaian olah raga, satu atau dua setel pakaian seragam berikut atributnya, sepatu warna hitam, jas laboratorium, komputer, dan lain-lain.Sementara bagi orang tua siswa yang naik kelas dikenai uang bayaran (BP3 atau SPP) ekstra satu bulan, lalu uang praktikum, uang ujian, uang keterampilan dan aneka bentuk dana-dana lain yang bisa membuat stres bagi yang hidup pas-pasan atau hanya tersedia sedikit uang.Semacam kebingungan yang dialami Ny. Etih Sukati, warga Kel. Sukamiskin Kec. Arcamanik, Kota Bandung dalam memenuhi biaya pendidikan putra bungsunya yang naik ke kelas II satu SMA swasta di daerah Ujungberung. Etih yang sehari-hari bekerja sebagai pramusiwi paruh waktu (part time) pada satu keluarga di kompleks perumahan Taman Golf (Golf Garden) Arcamanik, Bandung harus menyiapkan dana setidaknya Rp 1 juta untuk biaya pendidikan putra bungsunya itu.”Putra abdi kedah mayar daftar ulang Rp 350.000,00 teras artos bayaran sasasih Rp 55.000,00. Teu acan kanggo komputer, ujian sareng rupi-rupi dugi ka total kedah aya Rp 1 juta (Biaya daftar ulang, uang bayaran sebulan, uang komputer, uang ujian dan lain-lain mencapai Rp 1 juta),” ujar perempuan paruh baya ini, Senin (2/7).Etih, yang bekerja antara pukul 7.00 hingga pukul 12.00 setiap harinya, mengaku sudah berusaha meminta keringanan kepada guru/wali kelas putranya, namun disarankan menemui kepala sekolah karena guru tersebut sebatas menyampaikan kebijakan sekolah tanpa bisa memberikan keputusan.Akhirnya Etih yang bekerja untuk mencuci pakaian dan membersihkan rumah selama lima jam sehari itu menyempatkan menemui wakil kepala sekolah tempat putranya menuntut ilmu. Dia menyampaikan persoalan keuangan yang dihadapi untuk memenuhi sejumlah dana pendidikan putranya kepada wakil kepala sekolah, terlebih lagi suami Etih tidak bekerja karena sakit sejak beberapa waktu lalu.”Saurna teh memang aya artos bantuan kanggo para murid anu orang tuana teu mampu, mung kanggo dua jalmi unggal kelas. (wakil kepala sekolah menyebutkan ada bantuan pendidikan bagi siswa yang orang tuanya tidak mampu, hanya dana yang tersedia untuk dua siswa setiap kelas),” tutur Etih.Yang lebih membuat bingung Etih adalah tetap perlu membayar minimal Rp 350.000,00 untuk daftar ulang meski putranya bukan siswa baru dan akan tetap sekolah di SMA itu. “Kaping 5 Juli teh kedah lebet minimal Rp 350.000,00 (tanggal 5 Juli 2007 sudah harus masuk uang untuk daftar ulang),” katanya menirukan penjelasan dari pihak sekolah.Entah apa yang akan dilakukan Etih dan juga Etih-Etih yang lain. Mereka yang berkehidupan pas-pasan atau kekurangan namun berusaha agar putra-putrinya mendapat pendidikan yang layak agar kehidupannya lebih baik dari orang tuanya. Adakah bentuk keringanan lain yang lebih terasa manfaatnya bagi kemajuan dunia pendidikan di tanah air.

Ringkasan lain tentang Saat Orang Tua Hadapi Problem Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: