Kapitalisme Pendidikan Indonesia

Kasus tewasnya praja Cliff Muntu di IPDN belum lama ini kembali menguak fenomena buramnya wajah pendidikan
Indonesia. Ironisnya, yang terjadi di IPDN baru puncak dari gunung es. Sebelumnya, kasus – kasus bullying ( Perilaku
agresif dan menekan baik dalam bentuk tindakan fisik secara langsung dan atau menyerang melalui kata-kata) telah
memakan korban. Kalau tidak trauma, mogok sekolah atau masuk RSJ dan lebih parah bunuh diri! Masih ingat kasus Fifi
kusrini (13 th) siswi SMP 10 Bandar Gebang, Bekasi yang gantung diri pa 15 Juli 2005 karena sering di ejek teman –
temannya sebagai anak tukang bubur atau linda Utami sisiwi kelas II SLTP 12 Jakarta yang mengalami kondisi yang
sama. Belum lagi berbagai kasus lain seperti;seks bebas, aborsi, narkoba, tawuran antar pelsjsr / antar kampus, jual beli
nilai dan tindakan kriminal lain.

Dari segi kualitas, pendidikan Indonesiapun sangat mengenaskan.Dari hasil survey UNDP (2002) kualitas SDM
Indonesia hanya menduduki peringkat 110 dari 179 negara di dunia!Satu tingkat diatas Vietnam.Negeri yang kita tahu
selam apuluhan tahun perang saudara. Dari sisi keahlian kita juga sangat jauh dibandingkan dengan negeri lain.Belum
lagi masalah pengangguran yang lain bertambah, baik pengangguran intelektual (lulusan universitas) atau lulusan
pendidikan dibawahnya.

Gamnbaran kelam wajah pendidikan kita tersebut mereupaknn bukti gagalnya pendidikan mencetak anak didik yang
memiliki kepribadian yang khas, apalagi kepribadian klam.Hal ini tidak lain di sebabkan adanya pengadopsian kebijakan
kapitalis dalam dunia pendidikan kita.

Dampak Kapitalisasi Pendidikan

masih hangat dalam ingatan kita, bagaimana pada masa kolonial dulu, pendidikan hanya di peruntukan bagi kaum
borjuis/ ningrat. Kaum pribumi yang miskin hanya menjadi buruh – buruh tani atau buruh para majikan. Dan sekarang
setelah 62 tahun penjajahan fisik hengkang dari bumi pertiwi ini, mengapa pendidikan juga masih saja di peruntukan
bagi orang – orang berduit saja? Ini adalah bukti, kita masih terjajah ( pada dominasi politik, ekonomi, sosial budaya dan
pendidkan ) oelh kapitalis global. Dalam system kapitalis negara hanya sebagai regulator / Fasilitator dan peran swasta
dioptimalkan. Sehingga munculah otomi- otonomi kampus atau sekolah yang intinyamakin membuat negara tangan
terhadap masalah pendidikan. Dan akibatnya sekolah harus kreatif dalam mencari dana bila ingin tetap bertahan, mulai
dari buka bisnis sampai paling gampang yaitu menaikan biaya pendidikan. Hasilnya, pendidikan benar – benar
dikomersilkan sehingga pendidikan makin sulit dijangkau masyarakat miskin.

Selain itu, dampak pendidikan kapitalis juga membawa aroma penuh sekuler materialis. Hal tampak nyata dalam UU
Sisdiknas no.20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15, dari
pasal ini nampak jelas dikotomi pendidikan yaitu pendidikan agama dan umum. Hal serupa juga tampak dalam Bab X
pasal 37 tentang kurikulum pendidikan tinggi yang wajib memuat pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan dan
bahasa. Namun parahnya, matakuliah agama dijadikan mata kuliah pilihan atau ditawarkan pada semester akhir (ITB)
bahkan ditiadakan (Fakultas Kedokteran USU).

Sehingga tidak aneh jika sejak dini ditanamkan nilai – nilai sekuler yang menjadikan generasi kita menjadi generasi yang
hanya menjadikan agama sebagai ibadah ritual dan moralitas semata. Mereka lebih mengenal Jean Bodin, Thomas
Hobbes, Adam Smith dari pemikir – pemikir islam. Pendidikan Sekuler juga telah mencetak manusia – manusia sekuler
yang hidup hanya untuk kepentingan peribadi. Pejabat menipu rakyar, ulama menjadi pembuat fatwa sesuai pesanan
sponsor, banyaknya profesi sebagai Komprador, juga SDM pabrikan yang sekuler yang tidak akan pernah punya rasa
empati kemanusiaan.

Pendidikan Tanggung Jawab Negara

Ini bukanlah jargon atau lips service semata, tapi merupakan salah satu bukti nyata bahwa Islam beda dengan Neo-
Liberalisme dengan kapitalisnya. Dalam islam, pembiayaan pendidikan seluruh tingkatan sepenuhnya menjadi tanggung
jawab negara. Mulai dari biaya pendidikan, gaji guru/dosen, sarana dan prasarana pendidikan termasuk auditorium,
asrama dsb (Usus at- Ta’lim al manhaji hal.12). karena dalam pandangan islam, negara wajib menjamin tiga kebutuhan
pokok msyarakat yaitu Pendidikan, Kesehatan dan Keamanan. Ketiganya merupakan hak rakyat atas negara yang
diperoleh dengan gratis. Namun meski begitu negara juga tidak melarang bagi masyarakat yang mampu untuk berperan
dalam pembiayaan pendidikan melaui wakaf yang telah di syari’atkan.

Sumber pendapatan untuk kemaslahatan umum (termasuk pendidikan) diambil berdasarkan syari’at islam melalui kharaj
(atas tanah), jizyah, dan cukai perbatasan yang dipungut negara (Nidzomul Islam, Qiayadah Fikriyah hlm,66). Untuk
sumber Baitul Mal yang digunakan untuk membiayai pendidikan terdapat 2 pos.

1. Fa’i dan Kharaj ( ghanimah, khumus, jizyah, dharibah )

2. Kepemilikan Umum ( tambang Minyak, Gas, Hutan, laut dan Hima )

Namun jika dari 2 pos tersebut ternyata tidak mencukupi maka negara diperbolehkan berhutang yang hutang ini dilunasi
negara dari dana dhoribah 9Pajak) yang diambil dari kaum muslim (Al maliki 1963). Adapun biaya dari Baitul Mal
tersebut secara garis besar dikeluarkan untuk 2 kepentingan. Pertama : membayar gaji segala pihak yang terkait dengan
pelayanan pendidikan seperti guru, dosen,karyawan,dll. Kedua : untuk membiayai sarana dan prasarana pendidikan
seperti bangunan sekolah, asrama, perpustakaan, auditorium, buku-buku pagangan tersebut (An Nabhani 1990).
Sejarah islam telah mengukir dengan tinta emas. Bagaimana para khalifah telah menjamin pembiayaan pendidikan umat
dengan gratis. Khalifah Umar dan Usman memberikan gaji kepada para guru, muadzin dan imam sholat jama’ah. Juga
Forum Gayo – ::Situs Resmi Kabupaten Aceh Tengah:: Joomlaboard Forum Component version: 1.1 Stable Generated: 17 September, 2008, 10:56
pada abad IV H, para khalifah membangun berbagai sarana dan prasarana pendidikan seperti auditorium, perpustakaan,
asrama mahasiswa, perumahan dosen dan ulama. Bukan hanya itu sebagai pelengkap : taman rekreasi, kamar mandi
dan ruang makan juga disediakan dan sekali lagi, Gratis!! (Khalid ,1994). Perguruan tinggi tersebut seperti Madrasah
Nizhamiyah dan Madrasah Al Muntashiriyah di baghdad. Madrasah an Nuriyah di Damaskus serta Madrasah
Mustanshiriyah di Kairo. Dan pertanyaan sekarang mampukah negeri tsunami ini menggratiskan pendidikan dengan
potensi pembiayaan saat ini ?

Wujudkan Pendidikan Gratis !

Indonesia adalah negeri yang kaya, namun masyarakatnya miskin. Itu telah menjadi rahasia umum, menurut BPS tahun
2005 rakyat miskin mencapai 35 juta orang lebih, tahun 2006 meningkat menjadi 39,05 juta orang. Jika memenuhi
kesejahteraan saja sulit apalagi untuk memenuhi kebutuhan pendidikan! Jadi wajar angka putus sekolah bahkan tidak
bisa sekolah tahun demi tahun kian meningkat. Namun sekali lagi…..Indonesia kaya!. Hasil hutan, laut, perut bumi juga
potensi alam yang lain seharusnya bisa dimaksimalkan untuk kepentingan umat, asalkan penguasa mau menjalankan
islam, bukan yang lain.

Dalam Media Politik dan Dakwah AlWa’ie No.81 tahun VII mei 2007. KH M.Shiddiq Al – Jawi menuliskan bahwa potensi
sumber pembiayaan pendidikan saat ini dapat diperoleh dengan memaksimalkan :

1. Potensi hutan berupa kayu (data 2007) sebesar U$ 2,5 miliar

2. Potensi hasil hutan berupa ekspor tumbuhan dan satwa liar sebesar U$ 1,5 miliar

3. Potensi pendapatan emas di papua sebesar U$ 4,2 miliar

4. Potensi pendapatan Migas Blok Cepu pertahun U$ 700 juta

Beliau juga menuliskan, jika masih kurang untuk biaya pendidikan. Jalankan penegakan hukum dengan tegas,
InsyaAllah akan memperoleh tambahan dana. Karena selama ini kekayaan negara yang hilang akibat korupsi sepanjang
tahun 2006, ICW mencatat Rp. 14,4 Triliun, belum lagi yang hilang akibat illegal logging Rp.40 Triliun.

Intinya, mewujudkan pendidikan gratis di negeri ini sebenarnya sangat dimungkinkan. Yang menjadi masalah bukanlah
tidak ada potensi pembiayaan atau sumber pembiayaan, melainkan kesalahan pemerintah dalam mengelola keuangan
negara. Jadi Pemerintahan yang amanah, beritikad baik yang setia terhadap islam dan kaum musliminlah yang kita
rindukan. Bukannya sosok pemerintah yang korup dan bermental bobrok, yang hanya menjadi srigala penghisap darah
umat yang tidak layak menjadi penguasa. Wallahualam Bi Ashowab

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: